Antara Tong Kosong, Abu Janda, dan Ust. Felix Siauw

Posted on

Yang lucu lagi adalah saat Abu Janda berbicara dengan membawa data berupa gambar soal bendera panji Rasulullah. Data yang sudah dia persiapkan itu ternyata dibantah habis oleh Felix Siauw yang menyatakan data tersebut salah.

Hingga akhirnya, Abu Janda jadi sasaran olok-olok netizen. Terlebih dia kemudian membahas soal hadist dhaif yang kemudian dikritisi oleh tokoh NU, Mahfud MD. Mengaku NU tapi ternyata karakternya dinilai sama sekali bukan NU. Lantas siapa sebenarnya Abu Janda ini?

Sontak orang jadi mempertanyakan kredibilitas seorang Abu Janda yang begitu gahar di dunia maya tapi melempem di forum diskusi dunia nyata. Tapi apa pun itu, saya tak setuju dengan orang yang langsung melabeli Abu Janda sebagai sosok tong kosong. Sebab kekeliruan adalah hal yang wajar bagi setiap manusia.

Tapi sebagai sosok publik agaknya Abu Janda memang mesti belajar lebih dalam lagi agar suaranya bisa lebih berbobot dalam memukul lawan debat di dunia nyata. Ini pun agar bisa membedakan warna dan ciri bendera-bendera dalam sejarah. Sebab kalau warna kuning bukannya bendera panji Rasulullah melainkan bendera parpol.

Namun pada sisi lain pula, saya juga setuju dengan pandangan Abu Janda soal Pancasila dan keberagaman. Sebagai warga yang cinta negara, Pancasila dan keberagaman memang sudah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

Tapi Pancasila dan keberagaman hanya bisa ditegakkan dengan pendidikan. Sebaliknya musuh sesungguhnya Pancasila bukan khilafah melainkan kebodohan.

Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya mengutip penggalan lagu Slank berjudul ‘Tong Kosong’:

Tong kosong nyaring bunyinya,


tetapi tong kosong banyak bicara,


oceh sana sini gak ada isi,


otak udang ngomongnya sembarang.”

Penulis: Abdullah Sammy, wartawan Republika

Sumber : Portal-Islam.id