Shalat, Budaya Tepat Waktu & Leadership Anies Baswedan

Posted on

Allah sendiri, dalam Islam, misalnya, telah menggariskan dalam firmannya bahwa orang-orang yang mensia-siakan waktu akan merugi. Di Barat sendiri dikenal istilah “time is money”. Lalu bagaimana budaya buruk “jam karet” ini bisa kita hilangkan?

Merubah budaya buruk ini adalah tugas berat semua orang. Namun, contoh seorang pemimpin, seperti Anies, yang menghargai waktu, perlu menjadi inspirasi.

Kedua, Anies meminta waktu sebentar untuk Sholat. Dan mempengaruhi tamunya juga untuk Sholat. Ini adalah teladan yang dahsyat dan sulit ditemui saat ini.

Banyak elit elit pemimpin Islam yang tidak mementingkan waktu Sholat, apalagi memikirkan Sholat tamunya. Karena, Sholat biasanya merupakan tanggung jawab masing masing kepada Tuhannya. Begitulah adab sekuler saat ini.

Namun, bagi Anies menunjukkan dia harus Sholat tepat waktu dihadapan tamunya, seperti sebuah dakwah. Apalagi bisa mempengaruhi tamunya juga untuk hal yang sama. (Ingat anak ITB itu mungkin ada 25% lebih percaya Einstein lebih hebat dari Tuhan)

Sholat merupakan kewajiban bagi ummat Islam yang mayoritas di republik ini. Di Jakarta yang serba macet dan materialistik untuk mencari waktu dan ruang Sholat dalam suasana bisnis atau sibuk bekerja, menjadi terasa susah. Sholat Ashar biasanya sudah biasa dilakukan dekat dekat azan Maghrib. Cari tempat Sholat di perkantoran atau mall biasanya dapat sisa ruangan gudang atau tempat parkir.

Mengapa demikian? Mayoritas hal ini terjadi karena pemimpin-pemimpin negeri ini kurang menghargai mulianya Sholat. Dalam hal ruang ruang publik, khususnya swasta, karena ruang publik tersebut dikontrol orang-orang yang tidak memikirkan Sholat. Tentu beberapa tempat, seperti mal mal elit di Jakarta, sudah mulai membangun musholla yang luxorius, memanjakan konsumen muslim. Namun ini sesuatu yang terbatas keberadaannya. Sebuah terobosan besar dari Gubernur Anies adalah memberikan ruang Sholat pada setiap halte bus Transjakarta. Sebuah perubahan besar.

Dengan cintanya Anies terhadap Sholat, tentu kita berharap sebuah gerakan besar cinta Tuhan akan terjadi di Jakarta. Sebagaimana dalam agama Islam, Sholat disebutkan sebagai tiang agama, maka dapat diharapkan gerakan Sholat nya Anies akan mengurangi jumlah aparatur negara yang selama ini banyak terjebak budaya dalam dualitas konyol, habis korupsi langsung Sholat. Atau ikut zikir dan sumbang Masjid sambil makan uang korup.Op Tijd dan Cinta Sholat tampaknya menjadi ikon leadership Anies Baswedan. Ini sebuah awal revolusi mental. Semoga tidak mental mentul (terpental-pental) seiiring waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *